Entertaiment Nasional
Jerome Polin Soroti Kemiskinan Struktural: Kerja Keras Tak Selalu Menjamin Kesejahteraan
Redaksi Nusa Bangsa
Sedang dibaca 0 orang
Jerome Polin menyoroti kemiskinan struktural dan menegaskan bahwa kerja keras tak selalu menjamin kesejahteraan. Ia juga mengkritik ketimpangan ekonomi, korupsi, serta pentingnya penggunaan pajak untuk kepentingan rakyat.
JAKARTA — Kreator konten sekaligus figur publik Jerome Polin menyoroti pandangan yang mengaitkan tingkat kesejahteraan seseorang dengan kerja keras. Melalui unggahannya di media sosial Threads, Jerome menegaskan bahwa kondisi ekonomi seseorang tidak bisa semata-mata dinilai dari seberapa keras mereka bekerja.
Menurut Jerome, kemiskinan tidak selalu disebabkan oleh kemalasan atau kurangnya usaha. Ada faktor lain yang turut memengaruhi kesejahteraan masyarakat, seperti sistem ekonomi, kebijakan pemerintah, tingkat upah, kondisi sosial, hingga kesempatan yang dimiliki setiap individu.
Jerome mengaku pernah memiliki pemikiran bahwa orang yang hidup dalam kesulitan ekonomi disebabkan oleh kurangnya kerja keras. Namun, setelah mempelajari konsep kemiskinan struktural, ia menyadari bahwa persoalan tersebut jauh lebih kompleks.
“Dulu sebelum belajar tentang kemiskinan struktural, aku pernah mikir kalau orang yang hidupnya susah tuh simply karena mereka kurang kerja keras aja,” tulis Jerome melalui akun Threads-nya.
Jerome Soroti Sistem Upah dan Kesejahteraan Pekerja
Jerome menjelaskan, banyak orang telah bekerja keras setiap hari, tetapi tetap mengalami kesulitan ekonomi karena penghasilan yang diterima tidak sebanding dengan kebutuhan hidup maupun usaha yang mereka keluarkan.
Ia mencontohkan sejumlah profesi, seperti guru honorer, tenaga kesehatan (nakes), dan tukang becak, yang menurutnya dapat menghadapi tantangan kesejahteraan meskipun telah mencurahkan tenaga dan waktu untuk bekerja.
“Setelah belajar, ternyata gak gitu. Banyak orang yang kerjanya keras banget, tapi masih susah. Karena memang tidak mendapat gaji/apresiasi yang besar. Guru honorer, nakes, tukang becak, dll,” tulisnya.
Ia menilai, sistem yang berlaku turut menentukan tingkat kesejahteraan seseorang. Pekerjaan dengan jenis dan beban yang serupa dapat menghasilkan kondisi kehidupan yang berbeda apabila dilakukan di negara dengan sistem ekonomi dan kebijakan yang berbeda.
“Ini disebabkan oleh sistemnya. Pekerjaan yang sama, di dua negara (sistem) yang berbeda, bisa punya tingkat kesejahteraan yang berbeda,” lanjut Jerome.
Pengalaman di Jepang Membuka Perspektif Baru
Jerome juga membagikan pengalamannya ketika menempuh pendidikan di Jepang. Ia melihat sejumlah temannya yang bekerja paruh waktu di restoran, toko pakaian, hingga minimarket tetap memiliki kesempatan untuk menikmati berbagai aktivitas hiburan dan gaya hidup.
Menurut Jerome, pengalaman tersebut memberinya perspektif bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh besarnya usaha seseorang, tetapi juga oleh sistem yang mendukung kehidupan para pekerja.
“Banyak teman-temanku part time jadi staff di restoran, toko baju, kasir minimarket, dll. Tapi mereka bisa pergi ke Disneyland, main ke cafe estetik hits yang pricey, bahkan bisa punya gadget terbaru,” tulisnya.
Ia menambahkan, kebijakan ekonomi, politik, budaya, dan kondisi sosial dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.
“Dua orang yang pekerjaan, kerja keras, waktu kerjanya sama, bisa sangat berbeda kondisinya bergantung sistem di mana dia hidup,” imbuhnya.
Hidup Susah Tidak Selalu Berarti Malas
Meski menyoroti peran sistem, Jerome tidak menampik bahwa ada orang yang mengalami kesulitan ekonomi karena kurangnya usaha. Namun, ia mengingatkan agar kondisi tersebut tidak dijadikan generalisasi terhadap semua orang yang hidup dalam keterbatasan.
Menurutnya, banyak masyarakat telah berusaha keras untuk memperbaiki kehidupan, tetapi masih kesulitan keluar dari kondisi ekonomi yang mereka alami karena menghadapi hambatan struktural.
“Tapi bukan berarti SEMUA yang hidupnya susah, adalah orang yang malas dan tidak bekerja keras, karena balik lagi, ada sistem yang bikin mereka emang susah untuk lepas dari kelas itu,” tulisnya.
Jerome menilai, memahami persoalan kemiskinan secara lebih menyeluruh dapat membantu masyarakat menghindari kebiasaan menghakimi orang lain hanya berdasarkan kondisi ekonomi mereka.
Garis Awal Kehidupan Setiap Orang Berbeda
Selain faktor sistem, Jerome turut menyoroti perbedaan latar belakang keluarga dan kesempatan yang dimiliki setiap orang sejak awal kehidupannya.
Ia menjelaskan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga berada memiliki akses terhadap modal dan sumber daya yang berbeda dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga menengah ke bawah, terlebih bagi individu yang harus menanggung kebutuhan keluarga atau menjadi bagian dari generasi sandwich.
“Kalau kamu lahir dari keluarga orang kaya yang punya modal kayak gitu, kamu gak perlu kerja pun bakal tetep jauh lebih kaya dari yang terlahir di keluarga menengah ke bawah dan sandwich generation,” tulisnya.
Karena itu, Jerome mengajak masyarakat yang memiliki kehidupan berkecukupan untuk mengembangkan empati terhadap orang-orang yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Start tiap orang beda. That's why we all need empathy,” tulis Jerome.
Kritik Tren Penurunan Gaya Hidup dan Ketimpangan
Jerome kemudian menyoroti tren downgrade gaya hidup yang ramai dibicarakan di media sosial. Tren tersebut menggambarkan upaya sebagian masyarakat menyesuaikan pengeluaran dan menurunkan standar gaya hidup agar tetap mampu memenuhi kebutuhan di tengah kondisi ekonomi.
Di sisi lain, ia menilai adanya ironi ketika masyarakat harus semakin berhemat, sementara sebagian pejabat yang melakukan korupsi justru tetap menikmati kehidupan nyaman.
“Yang sedih itu di saat banyak rakyat makin kesulitan, sampai harus downgrade quality of life mereka, di sisi lain banyak pejabat korup yang hidupnya nyaman,” tulis Jerome.
Ia juga mengkritik praktik penyalahgunaan uang publik. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi semakin ironis apabila dibandingkan dengan kewajiban masyarakat membayar pajak dari penghasilan yang mereka peroleh.
“Yang lebih ironis lagi, pemasukan pejabat tersebut berasal dari pajak yang dipotong dari pemasukan rakyat, dan bahkan mereka gak perlu bayar pajak,” lanjutnya.
Jerome berpandangan bahwa pajak seharusnya dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kebijakan dan program yang memberikan manfaat nyata.
“Padahal kalo pajaknya dipake balik untuk upgrade quality of life rakyat, sangat bisa. Tapi kalo gitu, gak bisa menguntungkan diri sendiri dan kelompoknya dong... heartbreaking,” tulisnya.
Melalui pernyataan tersebut, Jerome mengajak masyarakat melihat kemiskinan dan kesejahteraan dari perspektif yang lebih luas. Kerja keras tetap menjadi bagian penting dalam memperbaiki kehidupan, tetapi kesempatan, latar belakang keluarga, sistem pengupahan, kebijakan publik, dan tata kelola pemerintahan juga berperan dalam menentukan kondisi ekonomi seseorang.
Pandangan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kesulitan ekonomi tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti kemalasan. Di tengah perbedaan kondisi dan kesempatan hidup, empati serta kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat menjadi hal penting untuk diperhatikan.
- sukses
- makmur
- jeromepolin